kisah-kisah pendek, dengan cinta yang panjang #1

Cerita bermula di hari Senin pagi, ketika semua orang sedang ribut-ribut memilih dimana ia akan duduk, dibarisan mana mereka akan menetap, di bangku kusam mana mereka akan melewatkan hari-hari jenuh menjenuhkan. Berbeda dengan dia, seorang anak yang biasa saja, dengan tampilan lusuh walau matahari masih setinggi tiang bendera. Dia bergerak perlahan, melewati anak-anak yang telah mendapatkan singgasananya, tatapannya menuju dimana kakinya melangkah, ketika kepalanya bergerak keatas dengan sedikit rasa malu, matanya langsung tertuju pada seorang gadis manis berkacamata minus. Dia mendekatinya, tapi bukan untuk mendatanginya, ia hanya lewat, dan mencari bangku kosong, dan akhirnya, dia mendapatkannya, bangku jajaraan kedua dari kanan, di barisan ke 5 dari depan, dan ke 2 dari belakang, tepat menyilang dari bangku gadis yang entah siapa pikirnya.
Kau bisa panggil dirinya Iko, seorang lelaki belasan tahun, yang baru mau dan sepertinya ingin mengenal apa itu cinta. Yang mungkin baginya sesuatu yang baru, yang tak pernah terbayang akan seperti apa jadinya.
Esoknya, dengan semangat ia berangkat menuju tempat dimana hari-hari akan ia lewati dengan bertemu dengannya, sang gadis bermata empat pikirnya.
Ketika ia masuk ke dalam kelas, benar saja, gadis itu sedang duduk menunduk membaca ratusan kertas, yang terpaut di dalam buku, dengan menyengaja ia lewat di pinggir gadis itu, dan dengan niat, ia mencuri-curi pandang ke arah gadis itu, melihatnya dari dekat, membuat jantungnya berdetak lebih dari lari 12 menit di lapangan sepak bola. Bergegas ia duduk, dan tertegun melihat sang gadis, di benaknya. Apa ini rasanya jatuh cinta? Gumamnya sembari meletakan tangan kanan tepat ke arah jantungnya berada. "Lalu, aku harus apa?" Cetusnya pada diri sendiri. "Biarlah, toh, biarkan waktu bekerja dengan semestinya." Ucapnya dengan semangat yang menggebu.

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah puisi : Bunga Tidur

Jangan lupa, sedikitpun

Kau tak perlu mengerti