Jangan lupa, sedikitpun
Hai, perempuan manis bermata panda, jangan lupa istirahat, jangan lupa makan, jangan lupa bahwa aku masih mencintaimu. Terdengar menjijikan bukan? Tapi aku benar, kata-kataku benar, hanya perasaan ini yang salah mungkin, mencintai seorang perempuan yang ketenarannya nyata, diakui dunia dan segala mahluk yang disebut manusia. Apakah salah satunya ini mampu dan pantas? Ayolah, jangan beri ia sedikit-pun harapan, jangan pernah sama sekali. Sebab ia takan mampu membendung tangisnya sendiri, takan mampu membendung kecewanya, biar ia berteman dengan harapan yang semu.
Perempuan cantik dengan mata panda sebagai hiasan, jangan bilang jika hatimu hilang, jangan sedih jika hatimu perih, jangan mendesak jika hatimu sesak, dan jangan menangis jika hatimu teriris. Aku takan mampu mengobatinya, aku takan mampu pulihkannya, dan aku hanya mampu temani di setiap tangismu mulai mereda, tanpa pernah bertanya kenapa, tanpa pernah bertanya karena siapa, dan tanpa pernah tahu bagaimana bisa, sebab kulihat hari-harimu menyenangkan, tawamu jelas tergambar di tiap-tiap matahari yang terbit, dan senyummu tak pernah hilang dari lekukan bibirmu yang menandakan kau akan selalu baik-baik saja, pikirku.
Tapi entah, mata pandamu seolah tak bisa membohongi itu semua. Kau yang tampak selalu bahagia saat matahari ada, tapi sedih saat kau hanya ditemani sang rembulan. Apa itu semua karena matahari yang tak selalu ada di sisimu? Tapi matahari selalu ada di sana, menunggu giliran terbit, dia tidak pernah kemana-mana, dia tidak pernah pergi meninggalkan sang perempuan, apa hiasan di bawah matamu gara-gara kau hanya ingin tidur ditemani sang matahari? Tak usah dipikirkan, matahari akan selalu setia hadir, meski kau sering tak menganggap ia bagian dari takdir. Percayalah, matahari ada, akan selalu ada, temanimu kapan-pun kau perlu jeda, kapan-pun kau perlu reda, kapan-pun kau merasa dunia sedang beda.
Ia akan tetap sama dan matahari akan tetap setia, tak peduli dunia mengoloknya sedemikian rupa, pendiriannya tetap, seberat apapun ia ditimpa atap.
Bersedihlah, menangislah, tertawalah, bersenanglah, dan berbahagialah. Matahari akan selalu terbit, meski dunia sering buatnya sakit. Dan aku akan selalu ingat, meski kau sering menyuruhku lupa.
Perempuan cantik dengan mata panda sebagai hiasan, jangan bilang jika hatimu hilang, jangan sedih jika hatimu perih, jangan mendesak jika hatimu sesak, dan jangan menangis jika hatimu teriris. Aku takan mampu mengobatinya, aku takan mampu pulihkannya, dan aku hanya mampu temani di setiap tangismu mulai mereda, tanpa pernah bertanya kenapa, tanpa pernah bertanya karena siapa, dan tanpa pernah tahu bagaimana bisa, sebab kulihat hari-harimu menyenangkan, tawamu jelas tergambar di tiap-tiap matahari yang terbit, dan senyummu tak pernah hilang dari lekukan bibirmu yang menandakan kau akan selalu baik-baik saja, pikirku.
Tapi entah, mata pandamu seolah tak bisa membohongi itu semua. Kau yang tampak selalu bahagia saat matahari ada, tapi sedih saat kau hanya ditemani sang rembulan. Apa itu semua karena matahari yang tak selalu ada di sisimu? Tapi matahari selalu ada di sana, menunggu giliran terbit, dia tidak pernah kemana-mana, dia tidak pernah pergi meninggalkan sang perempuan, apa hiasan di bawah matamu gara-gara kau hanya ingin tidur ditemani sang matahari? Tak usah dipikirkan, matahari akan selalu setia hadir, meski kau sering tak menganggap ia bagian dari takdir. Percayalah, matahari ada, akan selalu ada, temanimu kapan-pun kau perlu jeda, kapan-pun kau perlu reda, kapan-pun kau merasa dunia sedang beda.
Ia akan tetap sama dan matahari akan tetap setia, tak peduli dunia mengoloknya sedemikian rupa, pendiriannya tetap, seberat apapun ia ditimpa atap.
Bersedihlah, menangislah, tertawalah, bersenanglah, dan berbahagialah. Matahari akan selalu terbit, meski dunia sering buatnya sakit. Dan aku akan selalu ingat, meski kau sering menyuruhku lupa.
Comments
Post a Comment