Posts

Showing posts from April, 2019

dirimu - dirinya

Mencintai mu dan nya, alasan apa yang dibuat siburung hingga berani-beraninya bilang begitu? Hanya siburung yang tau, entah itu cuman perasaan lewat? Atau mungkin yang tumbuh? Bisa keduanya. Yang pasti, siburung inginkan dirinya, tanpa mau melepasmu. Egoiskan? Jelass, siburung menyadarinya, bahkan dia dengan sukarela jika dipanggil si tak tahu diri. Karena apa? Dirimu yang menemani tahun-tahun siburung, dan dirinya yang menemani malam-malam siburung tanpamu. Jika siburung harus memilih, kemanakah ia seharusnya singgah? Atau tidak keduanya? Tenanglah, biar waktu bekerja dengan semestinya.

Sebuah puisi : Bunga Tidur

Bunga tidur Bunga, kau indah sejukkan sukma tak luput teduhkan tatap Bunga, dekatimu aku terbujur kaku tertusuk sendu duri-durimu Bunga, izinkan aku memetikmu walau bersikut dengan waktu Bunga, memang benar kau harum dan tak seorangpun yang mengingkarinya Bunga, tolong. Enyahkan raksimu yang memenuhi isi pikiranku Bunga, aku lupa bahwa; kau harum, namun pada siapapun Dan pada akhirnya, bunga. Kau hanyalah bunga tidur untukku

Ketika otak-ku dimaki hatiku

Di hadapan-mu, bibirku selalu jadi yang paling lebar tersenyum, gigiku selalu ingin nampak semua saat tertawa, pipiku jadi yang paling merekah. Sayangnya, hatiku tak sependapat dengan mereka, dia jadi satu-satunya yang murung, bahkan seakan menahan  beban sendirian. "Maafkan aku hatiku, aku tahu kau tak sanggup." Otak-ku bergumam.  . "Tolonglah, pahami diriku, jadi kau enak, sekarang bisa senang-senang tertawa terbahak-bahak, lalu esok? Siapakah yang paling menderita dibanding kau? Tak habis pikir aku dibuatnya. Begonya dirimu, apakah dengan bertanya tentang lelaki yang dekat dengannya membuat-mu biasa-biasa saja? Tentu iya bagimu, tapi bagiku? Entahlah , biar kau yang jawab sendiri, lelah aku dibuatnya patah." Maki hatiku.

Perihal Jarak

Kau hanya perlu kenal dengan jarak, agar hidupmu tak semonoton itu. Aku kembali mendekati sang jarak, agar aku kembali bisa merasakan hal itu. Hal-hal yang tak aku dapati saat aku coba melupakannya. Dan saat ini, di bagian bumi yang sedang kupijak, aku kembali merasakan hal-hal yang jarak selalu beri. Dia berikanku rasa kerinduan. Dia kembali berikanku rasa kecintaan. Dia kembali berikanku rasa kenyamanan. Dia kembali lagi berikanku rasa pengharapan. Terimakasih, jarak. Kau buatku ingin pulang ke rumah. Dan bagiku, pulang adalah pertemuan dan rumah adalah seseorang.

Jangan jatuh, cinta

Apakah mencintaimu harus sebodoh ini? Aku masih tak habis pikir, dengan bagaimana isi dalam pikiranmu, kau mampu meyakinkanku dengan lisanmu, tapi sikapmu tak senada dengannya. Aku kecewa, sangat kecewa, hatiku lelah dan seakan ragaku setuju dengan alasan itu. Apakah ini saatnya aku harus menyerah?