Ketika otak-ku dimaki hatiku
Di hadapan-mu, bibirku selalu jadi yang paling lebar tersenyum, gigiku selalu ingin nampak semua saat tertawa, pipiku jadi yang paling merekah.
Sayangnya, hatiku tak sependapat dengan mereka, dia jadi satu-satunya yang murung, bahkan seakan menahan beban sendirian.
"Maafkan aku hatiku, aku tahu kau tak sanggup."
Otak-ku bergumam.
.
"Tolonglah, pahami diriku, jadi kau enak, sekarang bisa senang-senang tertawa terbahak-bahak, lalu esok? Siapakah yang paling menderita dibanding kau? Tak habis pikir aku dibuatnya. Begonya dirimu, apakah dengan bertanya tentang lelaki yang dekat dengannya membuat-mu biasa-biasa saja? Tentu iya bagimu, tapi bagiku? Entahlah , biar kau yang jawab sendiri, lelah aku dibuatnya patah."
Maki hatiku.
Maki hatiku.
Comments
Post a Comment