Posts

Showing posts from March, 2019

Aku mencintai-Ku

Setelah hari-hari berlalu dengan saru, aku kembali merasakan keadaan hampa yang begitu menggebu. Aku sedang tidak ingin diganggu siapa-pun, dengan alasan apa-pun. Aku coba mengertikan semua orang, tapi tak ada satu-pun yang mampu mengertikanku. Dan disitulah salahnya, "sebaik apapun dirimu, kau tak bisa menyenangkan dan mengertikan semua orang". Jangan berharap perlakuanmu pada orang akan dapat timbal balik yang sama, semua orang tak seperti dirimu, kau harus pahami itu mulai sekarang. Dan akhirnya, aku hanya butuh aku, untuk menguatkanku, untuk mengingatkanku, bahkan untuk menampar diriku sendiri, dengan alasan apa-pun.

Dua cangkir kopi yang kuminum sendiri

Hari setelah jum'at pada tanggal 30 dibulan maret yang cukup membuat harimu basah karena terkena hujan. Aku duduk sendiri ditemani dua cangkir kopi yang ku minum berurutan dan senyumanmu yang tak mampu aku hilangkan di alam bawah sadarku. Di iringi kesunyian, di sadarkan oleh ingatan. Bahwa ternyata, aku candu ditemani ragamu. Candu mendengar obrolan-obrolan yang keluar dari bibir mungilmu, yaa tak mengapa memang kalau-pun yang sering keluar bukan namaku, setidaknya aku nyaman berada disampingmu. Walau kenyataannya, kupingku dan hatiku seolah bersekongkol untuk tak meng-iyakan itu.

halo, bunga tidurku

Lagi dan lagi, hatiku dibuatnya tak karuan, lagi. Tolong, setidaknya hargai usahaku untuk tak mau larut dalam hidupmu, untuk kedua kalinya. Jadi dirimu mungkin menyenangkan, jika tak suka dengan seseorang, tinggal bilang 'ga' beres, tak ada yang harus dipusingkan, masa bodo dengan dia yang menyatakan. Sedangkan dia? Seseorang yang mungkin cukup lama mengumpulkan sekepal keberanian untuk hanya sekedar menyatakan tanpa pengharapan, apa kau pernah memikirkan perasaannya? Tidak kan? Dan setelah dia hapus sedikit demi sedikit segala tentangmu di hati dan pikirannya, kau datang kembali. Entah apa maksud dan tujuanmu itu, apakah hanya untuk sekadar rekreasi? Entahlah. Tapi tolong, ini hati, bukan dunia fantasi.

centang dua biru

Hatiku dibuatnya kacau, hanya karena centang dua biru yang tak kunjung dapat balasan. Padahal biasanya seperti itu, aku-pun juga memakluminya, mungkin dia sibuk, atau sedang ada urusan lain. Tapi kata 'online' tanpa ada balasan sungguh buatku terganggu. Aku dibuatnya mati oleh hal-hal sepele.

gelapnya malam

Hari ini yang akan jadi kemarin jika menginjak esok, jum'at, 29 maret 2019. Entah-lah, kemarin jadi hari yang lumayan rumit, mungkin bukan yang lumayan, tapi salah satu diantara sekian hari yang lumayan rumit. Ketika aku hendak menjemputnya, bukannya rasa senang yang aku dapati, malah kesal yang aku terima. Bukan karena apa-apa, yaa aku melihatmu sedang asyik berbincang, tak tahu perihal apa karena aku hanya memandangnya dikejauhan, aku belum mau mendekatimu, aku masih ingin melihatmu dari jarak ini, yang mungkin kau takan nampak karena hari ini memang sudah malam, gelap menyelimuti kita dari pancaran lampu-lampu jalan. Aku sengaja menelponmu, beberapa kali malahan, kenapa tak kau angkat? Apa kau malu untuk mengangkatnya didepan teman-temanmu? Lalu kau anggap aku ini apa? Seorang abang gojek yang menunggu kepastian penumpangnya bahwa dia ada disebelah mana letaknya? Tidak lah, meskipun aku dianggap begitu, tapi aku menjemputmu karena inisiatif diriku sendiri, tak dipaksa olehmu...

Siburung, sebut saja begitu

Hallo, sesuai dengan judul, panggil saja aku siburung, dan yaa sebut saja begitu. Kau mau tahu alasannya? Ahh kurasa tidak. Tapi yaa tetap saja akan ku beritahu. Apasih yang terlintas dibenakmu pertama kali ketika membaca atau-pun mendengar kata burung? Pasti rerata akan langsung melihat seekor binatang yang punya sayap dan mampu terbang, yaa walaupun ada yang tidak, contohnya? (`)> yap betul, penguin. Kau tahu kan penguin? Burung yang tak bisa terbang dan tinggal di kutub utara ataupun selatan, yaa ada sebagian yang berada di kebun. Kebun binatang maksudnya. Ahh sudahlah, terlalu lama menyimpang, kau pasti bosan dan berpikir apa sih? Karena terlalu banyak ocehan dari aku sang pembual hehe. Burung, yaa sebut saja begitu, aku memanggil diriku dengan sebutan itu bukan karena apa-apa. Hanya saja aku suka membayangkan menjadi seekor burung. Dia bebas, terbang kemana-pun ia ingin, tak pernah mengeluh tentang 'mau makan apa besok?' Atau 'waduh chat semalam belum dibales do...