gelapnya malam

Hari ini yang akan jadi kemarin jika menginjak esok, jum'at, 29 maret 2019.
Entah-lah, kemarin jadi hari yang lumayan rumit, mungkin bukan yang lumayan, tapi salah satu diantara sekian hari yang lumayan rumit.
Ketika aku hendak menjemputnya, bukannya rasa senang yang aku dapati, malah kesal yang aku terima.
Bukan karena apa-apa, yaa aku melihatmu sedang asyik berbincang, tak tahu perihal apa karena aku hanya memandangnya dikejauhan, aku belum mau mendekatimu, aku masih ingin melihatmu dari jarak ini, yang mungkin kau takan nampak karena hari ini memang sudah malam, gelap menyelimuti kita dari pancaran lampu-lampu jalan.
Aku sengaja menelponmu, beberapa kali malahan, kenapa tak kau angkat? Apa kau malu untuk mengangkatnya didepan teman-temanmu? Lalu kau anggap aku ini apa? Seorang abang gojek yang menunggu kepastian penumpangnya bahwa dia ada disebelah mana letaknya? Tidak lah, meskipun aku dianggap begitu, tapi aku menjemputmu karena inisiatif diriku sendiri, tak dipaksa olehmu, karena aku ingin selalu jadi yang terdepan perihalmu. Jika kau menganggapku ada, setidaknya hargai aku. Bukannya aku ingin di akui dihadapan teman-temanmu, tidak juga, tapi jika kau berkenan yaa tak apa, aku merasa dihargai dengan hal-hal sesederhana itu, tak perlu kau umbar di sosial media-pun aku tak keberatan, tapi sudahlah, terimakasih untuk kau yang mau dan mampu meredakan egoku.

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah puisi : Bunga Tidur

Jangan lupa, sedikitpun

Kau tak perlu mengerti