Dua cangkir kopi yang kuminum sendiri
Hari setelah jum'at pada tanggal 30 dibulan maret yang cukup membuat harimu basah karena terkena hujan.
Aku duduk sendiri ditemani dua cangkir kopi yang ku minum berurutan dan senyumanmu yang tak mampu aku hilangkan di alam bawah sadarku.
Di iringi kesunyian, di sadarkan oleh ingatan.
Bahwa ternyata, aku candu ditemani ragamu.
Candu mendengar obrolan-obrolan yang keluar dari bibir mungilmu, yaa tak mengapa memang kalau-pun yang sering keluar bukan namaku, setidaknya aku nyaman berada disampingmu.
Walau kenyataannya, kupingku dan hatiku seolah bersekongkol untuk tak meng-iyakan itu.
Aku duduk sendiri ditemani dua cangkir kopi yang ku minum berurutan dan senyumanmu yang tak mampu aku hilangkan di alam bawah sadarku.
Di iringi kesunyian, di sadarkan oleh ingatan.
Bahwa ternyata, aku candu ditemani ragamu.
Candu mendengar obrolan-obrolan yang keluar dari bibir mungilmu, yaa tak mengapa memang kalau-pun yang sering keluar bukan namaku, setidaknya aku nyaman berada disampingmu.
Walau kenyataannya, kupingku dan hatiku seolah bersekongkol untuk tak meng-iyakan itu.
Comments
Post a Comment