Posts

Kau tak perlu mengerti

Aku cuman mau bilang, sebelum perasannya benar-benar menghilang (aku harap). Kalau-pun nanti jawabannya tetap sama, aku tidak pernah menyesal jika harus mengatakannya lebih dari sekali. Ungkapan tidak penting, dariku yang juga tak penting.  Sebuah usaha melupakan, yang tak pernah jadi kenyataan. Andai kata banda neira benar. Yang patah tumbuh, yang hilang berganti. Ah, jika saja semudah itu, mungkin tulisan ini tidak akan pernah ada. Namun, satu yang ku paham, dan kuharap kau-pun juga, cintaku walau tak terungkap, tapi semoga kau mengerti lebih dari yang sekadar terucap. Garis besarnya, kamu selalu gagal bikin aku buat enggak sayang. Ini untuk kamu, semua tulisan-tulisanku juga hampir semua untuk kamu, jangan tanya bagaimana perasaanku, setidaknya sampai tulisan ini selesai ditulis, perasaanku (masih) ada di kalimat pertama di paragraf ini. Ceritanya mungkin terdengar klise, kau dan aku yang tak pernah memulai apa-apa, tapi harus mengakhiri sesuatu yang tak pernah tau bagaimana awa...

Jangan lupa, sedikitpun

Hai, perempuan manis bermata panda, jangan lupa istirahat, jangan lupa makan, jangan lupa bahwa aku masih mencintaimu. Terdengar menjijikan bukan? Tapi aku benar, kata-kataku benar, hanya perasaan ini yang salah mungkin, mencintai seorang perempuan yang ketenarannya nyata, diakui dunia dan segala mahluk yang disebut manusia. Apakah salah satunya ini mampu dan pantas? Ayolah, jangan beri ia sedikit-pun harapan, jangan pernah sama sekali. Sebab ia takan mampu membendung tangisnya sendiri, takan mampu membendung kecewanya, biar ia berteman dengan harapan yang semu. Perempuan cantik dengan mata panda sebagai hiasan, jangan bilang jika hatimu hilang, jangan sedih jika hatimu perih, jangan mendesak jika hatimu sesak, dan jangan menangis jika hatimu teriris. Aku takan mampu mengobatinya, aku takan mampu pulihkannya, dan aku hanya mampu temani di setiap tangismu mulai mereda, tanpa pernah bertanya kenapa, tanpa pernah bertanya karena siapa, dan tanpa pernah tahu bagaimana bisa, sebab kulihat...

I still, love you

Mari buat ingatan lumpuh, segala tentangmu yang beranjak menjauh, tak ada sedikit-pun niatan untuk acuh, tapi perasaan yang terus kambuh memaksaku untuk mengeluh. Tunggu sampai sembuh, sampai namamu tak lagi buat hati luluh. Percayalah, aku masih mencintaimu dengan sepenuh, walau kau balas hanya separuh. Masih ingatkah kau waktu kita sama-sama rusuh, pikiran senantiasa gaduh, dan kita sama-sama berlabuh di tempat yang biasa kita buat keruh. Syukurlah jika kau lupa, karena bagimu mungkin itu hanya sebagian dari jalanan panjang tanpa tujuan, yang bahkan buatmu muak seketika, tapi terpaksa tetap kau jalani karena tak punya pilihan lain. Sedang bagi seseorang sepertiku, itu adalah bagian paling berharga di perjalanan tanpa persinggahan, yang menyenangkan karena ada kau di sampingku, yang menyesakkan karena hanya ragamu yang di sampingku, yang menyesalkan karena aku tidak tahu lebih awal bahwa kau pernah mencintaiku, yang menjengkelkan karena "kita" tidak pernah jadi topik ut...

Hidup kan (kembali) baik-baik saja

Hidup kan (kembali) baik-baik saja, hutan akan kembali hijau saat api membakarnya tanpa tapi, laut akan kembali tenang saat tsunami menerjangnya tanpa kompromi, banjir akan kembali surut saat hujan mengguyurnya tanpa menurut, pohon akan kembali rimbun saat musim gugur pergi tanpa menegur, langit akan kembali cerah saat awan hitam menyelimutinya dengan gagah, burung akan kembali terbang saat sarang tak lagi jadi tempat pulang, matahari akan kembali terang saat bulan hanya ditemani malam yang panjang, dan aku akan kembali baik-baik saja saat kau pergi, hilang, dan tinggalkan kenang. Tapi tak mengapa, asal kau senang, asal hatimu tenang, jangan cemaskan aku yang sedang tertusuk pedang. Dengan ataupun tanpa, sebab ataupun bukan karena aku, kau layak dan pantas untuk bahagia, dan dibahagiakan. Kita tidak pernah benar-benar bisa membuat keputusan yang tepat, meski dengan alasan yang hebat, tapi waktu selalu buat penyesalan datang terlambat.

Obrolan sepasang burung

"Aneh, ya?" "Kita?" "Akuuu, kamuu." "Memang, kan, masaa baru ngeh." "Lucu aja, gitu." "Kamu, aku sih engga." "Kamu lah yang suka ngelucu." "Kaya kita dong." "Iya yaa, jadi kita itu lucu, kan?" "Aneh apa lucu?" "Langka." "Harus dilindungi, dong." "Kan ada kamu." "Sekarang gimana?" "Masih belum." "Sampai kapan?" "Sabar, yaa, mungkin bentar lagi." "X atau Y?" "0, masih ditengah." "Tapi aku sayang." "Iyaa aku tauu."

Delima itu, buatku dilema

Delima itu, ingatkan-ku pada merah bibirmu. Daun itu, ingatkan-ku pada matamu. Cabang itu, ingatkan-ku pada lakumu. Dan duri itu, ingatkan-ku akan satu hal; tetap menggenggammu, walau sakitnya menusuk hingga ke kalbu atau mulai melepasmu, yang lukanya takan sembuh dibilas waktu. Delima itu, buatku dilema.

aku ingin, mencintaimu yang tak ingin

Kesalahan terbesarku, adalah mencintaimu. Yang kukira selama ini, kau begitu karena mencintaiku, dan aku dengan percaya dirinya ingin memastikan itu. Tapi, nampaknya, bayangan dicermin tersenyum saat kau tersenyum bukan karena ia ingin, tapi untuk segala yang ditakdirkan harus, mungkin saja jika ia bisa memilih, bayanganmu tak ingin membalas senyumanmu. Aku ingin, mencintaimu yang tak ingin.