I still, love you

Mari buat ingatan lumpuh, segala tentangmu yang beranjak menjauh, tak ada sedikit-pun niatan untuk acuh, tapi perasaan yang terus kambuh memaksaku untuk mengeluh. Tunggu sampai sembuh, sampai namamu tak lagi buat hati luluh.
Percayalah, aku masih mencintaimu dengan sepenuh, walau kau balas hanya separuh.
Masih ingatkah kau waktu kita sama-sama rusuh, pikiran senantiasa gaduh, dan kita sama-sama berlabuh di tempat yang biasa kita buat keruh.
Syukurlah jika kau lupa, karena bagimu mungkin itu hanya sebagian dari jalanan panjang tanpa tujuan, yang bahkan buatmu muak seketika, tapi terpaksa tetap kau jalani karena tak punya pilihan lain.
Sedang bagi seseorang sepertiku, itu adalah bagian paling berharga di perjalanan tanpa persinggahan, yang menyenangkan karena ada kau di sampingku, yang menyesakkan karena hanya ragamu yang di sampingku, yang menyesalkan karena aku tidak tahu lebih awal bahwa kau pernah mencintaiku, yang menjengkelkan karena "kita" tidak pernah jadi topik utama di tiap-tiap obrolan antara kita.
Maaf jika aku berbohong, tapi aku pembohong yang baik bukan? Sebab berbohong bahwa aku tak pernah mencintaimu adalah hal yang paling naif, maka hukum aku dengan perasaan-perasaan yang berkecamuk di dalam dada.
Tak mengapa memang, aku menerimanya, aku menerima kenyataan bahwa kau tak akan dan pernah jadi milikku.
Sebab itulah kau harus bahagia, sebab bahagiamu juga bahagiaku, dan kesedihanmu juga kesedihanku, namun, sedih dan bahagiaku bukan urusanmu, jadi tak usah hiraukan si pecundang ini, ia layak patah, sangat layak.
Terimakasih, karena ternyata kau pernah, mencintaiku yang masih.

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah puisi : Bunga Tidur

Jangan lupa, sedikitpun

Kau tak perlu mengerti